Senin, 28 Agustus 2017

LAPORAN HASIL OBSERVASI


LAPORAN HASIL OBSERVASI
PRA KKN
TAHUN AJARAN 2016/2017


DI SUSUN OLEH :
-          AHMAD BAIHAKI
-          DULWASID
-          ENENG RODIAH
-          ROS ROSANAH
-          SITI LINDIANI PUTRI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATHLAUL ANWAR








Kata Pengantar

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirah Ilahi Rabi, yang tealh memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga dapat de selesaikannya laporan Pra KKN ke Kp. Cianjung dengan baik dan lancar.
            Laporan ini di susun sebagai pertanggung jawaban kami untuk memenuhi tugas hasil akhir observasi Pra KKN ke Kp. Cianjung. Dalam kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1.      Bapak Fatullah, S.PdI MM selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan tugas laporan, karena telah memberikan bimbingan langsung dalam kegiatan observasi ke Kp. Cianjung
2.      Bapak Edi selaku ketua RT di Kp. Cianjung yang telah memberikan izin serta dukungannya.
3.      Ka Sumantri dan rekannya yang telah memberika informasi mengenai objek atau tempat observasi kami.
4.      Teman teman yang telah ikut gabung dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis sangat menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan sehingga sangatlah di perlukan suatu wejangan atau hal-hal yang bersifat membangun untuk memperbaiki laporan ini. Akhir kata, penulis sangat berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.




Penulis
Pandeglang, 27 Agustus 2017















Daftar Isi

KATA PENGANTAR ..........................................................................................           i
DAFTAR ISI ......................................................................................................           ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ..............................................................................           1
1.2  Maksud dan Tujuan ......................................................................           1
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Landasan Teori ............................................................................            2         
            2.2 Hasil Observasi ............................................................................            4
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan .................................................................................             5
            3.2 Saran ..........................................................................................                  5


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perkembangan tekhnologi informasi saat ini sangatlah pesat dan telah merambah ke penjuru belahan dunia. Dimana di jaman era modern ini sudah menjadi suatu kebutuhan dalam berbagai segi kehidupan manusia. Berbicara mengenai Negara Indonesia yang memiliki keanekaragamankebudayaan serta kaya akan sumber daya alam. Jika di kelola dengan sebaik baiknya maka akan menjadi sebuah deposit pemasukan yang besar untuk negara indonesia, dimana disini sumber daya manusia akan sangat di butuhkan untuk mengelola sumber daya alam tersebut. Sehingga angka kemiskinan disetiap daerah berangsur-angsur berkurang.

Di Indonesia walaupun sudah bisa mengelola sumber daya alam salahsatunya pembangkit listrik ternyata belum bisa dinikmati di daerah daerah terpencil, salahsatunya di daerah jawa yaitu Kp. Cianjung Desa. Cimanggu Kec. Cimanngu Kab. Pandeglang Provinsi Banten. Maka dari itu, kami akan membuat laporan ini berdasarkan hasil observasi ke Kp. Cianjung.


1.2  Maksud dan Tujuan
-          Maksud
a.      Maksud dari laporan penulisan ini adalah menjelaskan kepada pembaca tentang hasil observasi ke Cianjung
-          Tujuan
a.      Tujuannya untuk memberikan informasi baru kepada pembaca.
b.      Untuk menambah wawasan mengenai daerah Cianjung
-          Manfaat
a.      Bagi penulis yaitu merasakan akan kesenangan tersendiri karena sudah bisa berbagi informasi.
b.      Bagi pembaca yaitu untuk menambah wawasan baru mengenai daerah Cianjung.




BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

2.1 Landasan Teori

            Sebutan Kampung Cianjung atau ‘’Cangkilung’’ merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut. Berawal dari masyarakat luar yang suka mengejek mereka karena di Kampung Cianjung dulunya banyak pohon atau bambu cangkilung, sehingga di sebut Kampung Cangkilung. 
Masyarkat di Kampung Cianjung ‘’cangkilug’’ merupakan masyarakat yang bertempat tinngal di daerah pedalaman atau hutan yang kurang lebih terdiri dari 13 ( Tiga Belas ) rumah atau 13 Kepala Keluarga dan Satu Mushola. Dengan gaya arsitek rumah panggung bambu atau kayu. Kampung Cianjung ini merupakan wilayah Kecamatan Cimanggu, Pandeglang-Banten yang di kategorikan masyarakat miskin yang paling memprihatinkan di daerah ini. Dari segi lingkungannya dimana setiap rumah belum ada listrik ( tenaga listrik ). Padahal dulu mereka bisa merasakan adanya penerangan lampu dengan tenaga surya dari bantuan pemerintah, namun hanya mampu bertahan sampai 3 Tahun, dan akhirnya mereka beralih menggunakan lampu totok ( lampu tradisional ). sekarang kegiatan atau aktivitas di dalam rumah tangga sangat bergantung pada tenaga listrik, sedangkan  mereka siang maupun malam belum bisa merasakannya. Mereka masih melakukan aktivitas sehari harinya seperti masak nasi, menggosok pakaian dan lain lain dengan menggunakan alat alat seadanya.

            Bukan hanya itu saja yang menjadi sorotan kami melihat pada akses jalan, dimana jalan yang di lalui oleh masyarakat Kampung Cianjung ketika mereka mau ada urusan di luar kampung mereka harus jalan kaki dengan melewati  jalan setapak yang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam, karena jalan yang ditempuh itu cukup jauh kurang lebih 3 kilo meter. Akses jalan ini juga yang menjadi keluhan masyarakat dikarenakan kurang stabil, apalagi ketika musim hujan, masyarakat kampung Cianjung sangat kerepotan dengan jalan yang licin daan berlumpur.

            Walaupun seperti itu, tapi bagi anak anak yang ingin melanjutkan atau bersekolah sudah menjadi makanan sehari-hari, mereka tetap semangat dalam mengemban ilmu pendidikan sekolahdan kita patut acungkan jempol dengan jarak tempuh ke sekolah sekitar 3 kilo anak-anak tidak pernah mengeluh, hujan tak pernah jadi halangan mereka untuk pergi. Tak jarang pula jika hujan badai para orang tua sering mengantarkan anak anak ke sekolah dan menunggu sampai pulang lagi. Akan tetapi masyarakat belum ada yang menembus ke perguruan tinggi, mereka yang lulusan tingkat SLTP dan SLTA langsung bekerja padahal kalau melihat dari segi ekonomi mereka sebenarnya mampu untuk membiayai pendidikan sampai ke perguruan tinggi. hanya saja orang tua mereka lebih memprioritaskan bekerja daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

            Mengingat perekonomian masyarakat Cianjung dibilang cukup baik karena rata-rata mereka pekerja sebagai petani dan pekebun. Mereka biasanya mendapatkan hasil pendapatan dari menjual buah buahan seperti petay, melinjo, jengkol, gabah, dan lain lain dan tidak jarang pula dari menjual kayu.
Pada musim kemarau seperti sekarang, biasanya warga Cianjung mengelola olahan makanan yang berasal dari umbi umbian yang mereka sebut dengan “gadung”. Olahan gadung biasanya mereka jadikan kerupuk. Hanya saja mereka belum bisa memasarkan atau mendistribusikan makanan tersebut untuk bisa mereka jadika sebagai tambahan penghasilan.

            Sebagai pekerja keras tak ayal mereka sebagai manusia biasa pasti tidak akan sehat selau dan pasti akan merasakan sakit, tetapi masyarakat jarang terkena penyakit dan dapat di kategorikan dan tingkat kesehatan mereka cukup baik dan tidak serius paling yang mereka rasakan yaitu masuk angin dan gatal-gatal biasa. Dan kalaupunMasyarakat kampung Cianjung merasakan sakit yang diluar batas mereka paling mengobatinya dengan obat obatan warung seadanya atau obat obat tradisional yang ada dilingkungan mereka, karena jarak yang jadi penghalang untuk mereka bisa berobat ke puskesmas ataupun bidan.

            Masyarakat Kampung Cianjung notabennya menganut Agama Islam sebagai wujud syukur mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa mereka tetap melaksanakan Ibadah seperti Sholat dan mengaji di rumahnya masing-masing. Hanya saja di Kampung Cianjung tidak ada Ustad / Ustadzah yang biasa mengajarkan anak anak mengaji setiap malam atau minimal satu minggu sekali, mereka biasanya mengaji di rumah masing-masing dan di ajarkan oleh orang tuanya.
Karena masyarakat yang hanya ada 13 kepala keluarga, disini juga tidak ada masjid, yang ada hanya mushola dengan keadaannya yang sangat tidak memungkinkan untuk dipakai.
Biasanya Bapak-Bapak yang melaksanakan sholat jumat mereka pergi ke perkampungan yang ramai dan padat penduduk.



2.2 Hasil Observasi
               
                Pengalaman kami ketika observasi pra KKN ke Cianjung cukup membuka hati dan fikiran karena di zaman yang sudah modern ini, ketika orang lain menggunakan dan asyik menikmatigadget, tv, radio, internet tapi tidak untuk masyarakat cianjung, mereka tiap hari melakukan aktivitas seadanya tanpa adanya listrik.
                Walaupun masyarakat cianjung jauh dari keramaian dan hiburan tapi mereka sangat ramah, menerima kami dengan baik walaupun kami orang asing dan baru pertama kali menemui mereka. Kami di sambut dengan penuh suka cita dan kebahagiaan, diperlakukan dengan baik dan antusiasme menerima kami.
                Yang paling berkesan dari observasi ini yaitu ketika malam hari kami mengajak anak anak untuk belajar ngaji bersama di mushola dengan hanya menggunakan penerangan lampu totok, kemudian dilanjutkan dengan menonton film bersama dengan menggunakan laptop dan infocus dan di temani hujan. Kegiatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya karena terlihat betapa bahagianya raut wajah mereka.
                Yang membanggakan dari warga Kp. Cianjung yaitu ketika pagi datang anak anak dengan penuh semangat berangkat ke sekolah walaupun jalanan yang becek jauh dan harus jalan kaki.
  
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
           
            Masyarakat yang tinggal di Kampung Cianjung hanya terdiri dari 13 Rumah, 13 Kepala Keluarga dan 1 Mushola dengan arsitek rumah panggung.
Masyarakat di Kampung Cianjung di kategorikn masyarakat kurang mampu yang bermata pencaharian petani dan pekebun.
Yang menjadi keluhannya yaitu akses jalan yang jauh dan kurang stabil, untuk menempuh jalan ke Cianjung membutuhkan waktu kurang lebih dua jam dengan jarak 3 kilo meter, keluahn selanjutnya yang dirasakan masyarakat yaitu belum adanya tenaga listrik, sehingga mereka ketika malam hanya menggunakan penerangan lampu totok ( lampu tradisional ).

3.2 Saran

            Alhamdulillah dalam mengerjakan laporan hasil observasi ini banyak hikmah dan pelajaran yang dapat penulis ambil sebagai wawasan dan pengetahuan. Penulis yakin dalam pembuatan laporan ini masih banyak kekurangan. Sebagai bahan untuk kemajuan penulis dalam penilitian, penulis mohon untuk kritik dan sarannya karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.






Daftar Nama yang mengikuti kegiatan Observasi Pra KKN

1.      SITI LINDIANI PUTRI
2.      DULWASID
3.      ROS ROSANAH
4.      ENENG RODIAH
5.      AHMAD BAIHAKI
6.      DITA ANGGARA
7.      SUPRIYATNA
8.      YAYAT
9.      YULSI SAFITRI
10.  MURDIANTI
11.  MANDA
12.  HADIYUDIN
13.  YENI SUSILAWATI
                             

            

Minggu, 27 Agustus 2017

KEWAJIBAN ANAK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antaranya:
a.       Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tua, taat dan patuh orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat maksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara yang halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.
b.      Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun bertutur kata, memuliakan keduanya, terlebih di usia senja.
c.       Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya. Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran Islam.
d.      Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.
e.       Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta.
f.       Menjaga kehormatan dan nama baik mereka.
g.      Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun.
h.      Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain:
-          Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya
-          Melunasi semua hutang-hutangnya
-          Melaksanakan wasiatnya
-          Meneruskan sillaturrahmi yang dibinanya sewaktu hidup
-          Memuliakan sahabat-sahabatnya
-          Mendoakannya.

Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat pentingnya masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini perlu dikaji secara khusus.
Jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.
Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:
“Artinya : Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]
Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:
“Artinya : Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [ref]Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu-bapaknya.[/ref], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisaa' : 36]
Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran:
“Artinya : Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut (29): 8] Lihat juga surat Luqman ayat 14-15
Dalam sebuah ayat Alquran surat Al isra ayat 23  Allah berfirman “Telah mewajibkan Tuhan-mu agar kalian tidak menyembah selain Dia ( Alloh), dan supaya berbuat baik Kepada ibu bapak ” dan dalam sebuah ayat lain “ Bersyukurlah engkau kepada Ku dan kepada kedua orang tua mu ( Lukman : 14 ). Kalau kita perhatikan pada ayat pertama perintah beribadah kepada Alloh dan perintah Birrul walidain ( berbuat baik kepada kedua orang Tua ) diletakkan berdampingan serangkai didalam suatu ayat. Pada ayat kedua surat lukman pun perintah bersyukur kepada Alloh di dampingkan dengan perintah bersyukur kepada orang tua, hal ini mengindikasikan bahwa seolah Alloh berkata” Bahwa kalian tidak cukup beribadah , bertauhid dan beriman kepada ku tanpa kalian berbuat baik pada orang tuamu, dan tidak cukup kalian bersyukur kepadaku tanpa bersyukur kepada kedua orang tua.” Begitu agung nilai Birrul walidain hingga melebihi dari amalan jihad fi sabilillah . Seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh saw ” Ya rosul amalan apa yang paling di cintai Alloh? nabipun menjawab ” Sholat pada waktunya, sahabat bertanya kembali “Kemudian apalagi ya Rosul ?”. Nabi menjawab “Birrul walidain ( berbuat baik kepada orang tua ) , sahabat bertanya lagi “Apalagi ya Rosul ?” Nabi menjawab Jihad Fisabilillah”.
Kita telah tahu bahwa  amalan Jihad  fi sabillah merupakan amalan  wajib yang paling mulia yang balasannya adalah surga  dan orang berjihad fisabilillah  di sebut sebagai pahlawan dunia akherat  dan mati sebagai suhada, namun Amalan tersebut masih dibawah Amalan Birrul walidain , mengapa demikian ? sebelum berjuang fisabililah wujud manusia yang pertama berasal dari ibu yang melahirkan, dia tidak akan menjadi pejuang tanpa pemeliharaan orang tua , tanpa asuhan ibu bapaknya sejak kecil hingga dewasa. Sembilan bulan kita didalam kandungan dan melahirkan kita dengan mempertaruhkan  nyawa antara hidup dan mati. Ketika Alloh melepas`kita kedunia malalui kelahiran , ibu kita selalu menemani , didekap dengan dekapan kasih sayang, ibu merawat kita  sampai menjadi anak yang mandiri. Dari menyusui, merawat, memandikan, memberi makan dan lainnya. Yang boleh dibilang sangat sulit untuk dilakukan oleh seorang ayah.
HAK-HAK YANG WAJIB DILAKSANAKAN SEORANG ANAK KEPADA KEDUA ORANG TUA
1. Mentaati Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Mentaati kedua orang tua hukumnya wajib bagi seorang anak . Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya. Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua.
2. Merendahkan Diri dan berbicara lemah lembut Di Hadapan Keduanya
Berbicara dengan lemah lembut kepada nya,tidak boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua ,tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka. menghindari ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti hati  kedua orang tua, walaupun dengan bahasa isyarat . Termasuk bentuk bakti kepada kedua orang tua adalah senantiasa membuat mereka senang dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah Swt ,Oleh karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut dan baik serta dengan lafazh yang bagus.
3.Menyediakan Makanan yang baik
Menyediakan makanan yang baik kepada kedua orang tua, terutama jika orang tua kita memberi mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga.
4. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan
Seorang anak jangan bersikap bakhil (Pelit) terhadap orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah, serta telah berbuat baik kepadanya. Siang jadi malam malam jadi siang orang  tua kita membanting tulang merawat dari kecil hingga dewasa.
5 Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka
Salah satu bakti anak terhadap orang tua juga adalah mencintai  dan berbuat baik kepada para kerabat, teman teman orang tua dan  menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka.
6.Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain
Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya.” (HR. Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90, dari Ibnu ‘Amr radhiyallahu ‘anhu)

Perbuatan ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk.
Orang-orang sering bergurau dan bercanda dengan melakukan perbuatan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina.

Untuk itu mari kita mengharapkan berkah dari orang tua kita terutama ibu kita yang melahirkan kita dengan memperlakukan mereka dengan baik  agar kita memperoleh kebahagian didunia dan akherat.
SEMOGA BERMANFA'AT 

Selasa, 08 Agustus 2017

PANGLIMA PERANG YANG DI PECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit. 

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas. 

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.
Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya. 

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya. 

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis belaiu berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"
Bayangkan Sahabat Populer, jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?
Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemaren. 

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walin menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

Sebuah kisah yang sangat indah dari seorang jenderal, panglima perang, Pedang Allah yang Terhunus. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT.

Semoga beliau dimuliakan di sisi Allah SWT, amin.

PANGLIMA PERANG YANG HEBAT DALAM SEJARAH ISLAM

1. Khalid bin Walid
Panglima hebat yang tercatat dalam sejarah Islam pertama adalah Khalid bin Walid radhiyallahu?anhu. Beliau merupakan seorang panglima?perang pada masa khalifah Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu?anhu. Jabatan?Khalid akhirnya dicopot pada masa?Khalifah Umar bin Khatab.
Panglima gagah berani satu ini memang awalnya memusuhi Nabi dan para sahabatnya, tapi atas hidayah dari Allah beliau bisa bergabung dengan pasukan muslim dan menjadi kekuatan untuk Islam. Khalid bin Walid dikenal sebagai sosok yang tidak pantang menyerah dan garang di medan pertempuran. Orang-orang memberi julukan padanya dengan Saifullah al-Maslul(pedang Allah yang terhunus).
?
2. Saad bin Abi Waqqas
Panglima perang hebat berikutnya adalah sahabat Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu?anhu.Nama lengkapnya?Sa?ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri .Beliau menjadi ahli pemanah hebat setelah didoakan oleh Rasulullah?shallallahu ?alaihi wa sallam kepada Allah?subhanahu wa ta?ala. Saad merupakan seorang yang pemberani dalam memimpin pasukannya berperang melawan tentara Persia.
Atas pasukan yang dipimpinnya, alhamdulillah Saad bin Abi Waqqas bisa menaklukkan kerajaan Persia dalam peperangan di Qadissiyah. Saad bin Abi Waqqash menjadi panglima pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab?radhiyallahu?anhu.
?
3. Amr Bin Ash
Nama panjangnya Amr bin Ash bin Wail bin Hisyam bin Said bin Sahm al-Qurasyi as-Sahmi. Ia merupakan negosiator ulung dari kaum Quraisy. Seperti halnya sahabat yang lain, Amr bin Ash awalnya juga memusuhi Islam tapi hidayah datang padanya sehingga menjadi bagian dari kekuatan Islam sebelum penaklukan kota Makkah.
Amr bin Ash masuk Islam bersama dua orang lainnya, Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah di?Kota Madinah. Dan Rasulullah menyambut gembira datangnya orang-orang hebat tersebut dengan mengatakan bahwa Mekah telah memberikan putra terbaiknya untuk umat Islam. Prestasi terbesar Amr bin Ash adalah mampu menaklukkan kota Mesir, subhanallah. Untuk itu Umar bin Khattab yang saat itu sebagai khalifah menunjuk Amr bin Ash sebagai gubernur Mesir.
?
4. Syurahbil bin Hasanah
Nama Syurahbil bin Hasanah radhiyallahu?anhu?tidak semasyhur tiga panglima perang sebelumnya. Tapi beliau merupakan sahabat Nabi shallallahu ?alaihi wa sallam yang hebat.?Syurahbil bin Hasanah menjadi komandan pasukan pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khatab.
Prestasi Syurahbil bin Hasanah dalam memimpin pasukan tidak diragukan lagi, ia bahkan mampu menaklukkan Syiria (Suriah) di bawah naungan Islam. Namun, Allah berkehendak lain, Syurahbil bin Hasanah hanya bisa bertugas selama 4 tahun sebelum meninggal pada tahun 639 H.
?
5. Abu Ubaidah bin al-Jarrah
Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu?anhu termasuk dalam golongan orang yang pertama kali masuk Islam. Beliau juga disebut sebagai pemimpinnya para pemimpin dan Rasulullah?shallallahu ?alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa Abu Ubaidah bin Al-Jarrah sebagai orang kepercayaan umat ini.
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah juga menjadi salah satu kandidat khalifah sepeninggal Rasullah shallallahu ?alaihi wa sallam. Dan pada masa khalifah Abu Bakar?radhiyallahu?anhu diangkat menjadi panglima pasukan kaum muslimin melawan kerajaan Romawi. Sampai-sampai khalifah Umar bin Khattab pernah berkata sebelum meninggal bahwa seandainya Abu Ubaidah bin Al-Jarrah masih hidup maka akan menggantikan khalifah Umar bin Khattab.
?
6. Shalahuddin al-Ayyubi
Shalahudin al-Ayyubi nama yang masyhur dikalangan kaum muslimin saat pembebasan Palestina dari Nashrani. Salahudin atau Saladin termasuk pejuang muslim Kurdi dari Tikrit. Salahudin juga terkenal akan keberaniannya melawan tentara salib.
Selain sebagai panglima perang yang hebat, beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang mengerti akan Islam. Shalahudin ?dikenal karena jasa beliau membebaskan Palestina dari kaum Nasrani. Shalahudin adalah seorang pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Iraq sekarang). Dalam perang salib, Shalahudin dikenal karena keberanian dan pengampunannya terhadap tentara salib. Selain sebagai panglima perang yang hebat dalam sejarah Islam, Shalahudin dikenal sebagai seorang ulama. Beliau juga pernah diangkat sebagai menteri Mesir.
?
7. Muhammad al-Fatih (Mehmed II)
Al-Fatih (Sang Penakluk) merupakan julukan yang selalu melekat padanya karena telah menaklukan Konstantinopel ibukota kekaisaran?Romawi Timur?yang selama 11 tahun berkuasa. Muhammad al-Fatih juga dikenal dengan nama Sultan Mehmed II.
Pada penaklukan Konstantinopel tersebut merupakan salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Islam. Saat itu?Sultan Muhammad II mengerahkan?lebih dari 4 juta pasukan untuk menyerang benteng Bizantium dengan pertahanan kuatnya.?Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Tapi pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan?dengan 29 Mei 1453 M, Sultan Al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih.

Demikianlah beberapa panglima hebat dalam sejarah Islam yang begitu besar perjuangannya untuk menegakkan agama ini. Sebenarnya masih banyak orang-orang hebat pada masa awal Islam hingga sekarang yang ikhlas berjuang bersama Islam. Setidaknya dari beberapa panglima tersebut bisa kita ambil pelajaran bahwa perjuangan Islam itu tidak mudah, mulai dari zaman perang fisik hingga seperti saat ini perang pemikiran. Semoga umat Islam tetap jaya hingga akhir zaman.